BEIJING, TIONGKOK – Forum Akademisi dan Dosen Peneliti (FAST) terus mendorong upaya penguatan hilirisasi riset di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui partisipasi anggota FAST, Muhammad Aziz, dalam kunjungan akademik ke Beijing dan Chongqing, Tiongkok, pada 10–16 Oktober 2026. Atas undangan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok, delegasi yang juga merupakan akademisi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut berkesempatan meninjau langsung bagaimana hasil penelitian dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi industri dan masyarakat.

Agenda utama dalam kunjungan ini adalah mempelajari ekosistem pengembangan teknologi di Pusat Pameran Kawasan Demonstrasi Inovasi Nasional Zhongguancun, Beijing. Kawasan ini menjadi percontohan ekosistem terintegrasi yang sukses mempertemukan elemen perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, dan perusahaan.

Dalam peninjauan tersebut, terdapat beberapa capaian inovasi dan produk teknologi utama yang dipelajari, antara lain:

  • Kecerdasan buatan (AI), robot humanoid, dan kendaraan otonom.
  • Teknologi dirgantara komersial, manufaktur presisi, dan energi terbarukan.
  • Inovasi biomedis dan peralatan kesehatan, seperti robot bedah, diagnosis berbasis AI, dan sistem layanan kesehatan komunitas.

Bagi Aziz, pembelajaran terpenting dari Tiongkok bukanlah semata pada kecanggihan teknologinya, melainkan keberhasilan mereka dalam merancang ekosistem yang mendukung transformasi ilmu pengetahuan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

“Masa depan inovasi bukan hanya tentang siapa yang menghasilkan teknologi paling canggih, tetapi siapa yang mampu membangun ekosistem agar ilmu pengetahuan benar-benar bermanfaat. Tiongkok telah berhasil menyatukan pemerintah, kampus, peneliti, dan industri dalam satu sistem yang saling mendukung,” tegasnya.

Pengalaman ini menjadi refleksi penting bagi ekosistem pendidikan tinggi nasional dalam memperkuat hilirisasi riset. Ia menilai bahwa tolak ukur produktivitas akademik sudah seharusnya melampaui sebatas jumlah publikasi ilmiah atau prototipe. Riset harus diarahkan untuk menjawab persoalan di lapangan secara berkelanjutan. Hal tersebut tentu membutuhkan dukungan kebijakan kelembagaan, pendanaan, pelindungan kekayaan intelektual, serta kemitraan strategis dengan industri sejak tahap perencanaan.

Melalui sinergi yang utuh antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha, diharapkan riset kampus di Indonesia semakin aplikatif dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat daya saing bangsa.